
Ibrahim Gidrach Zakir.
Mengenang 7 hari kepergiannya.
“Aku hadapkan wajahku kepada Yang Mencipta Langit dan Bumi sebagai orang yang condong kepada kebenaran, dan bukanlah aku termasuk orang yang menyekutukan Allah. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku untuk Allah Rabb semesta. Tiada sekutu bagiNya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku termasuk orang yang berserah diri kepadaNya.”
Doa iftitah (pembuka) ini senantiasa di ucapkan di awal shalat. Menunjukan ketundukan kita kepada Allah Sang Pencipta dan mengakui tiada Tuhan selain Allah SWT semata. Dan menyatakan kepasarahan atas segala ketentuanNya.
Insya Allah kita selamat, bukankah kita tidak pernah menyekutukan Allah? Begitu katamu. Dan yang terpenting lagi, jangan sampai kita meninggalkan shalat. “Selain shalat wajib, kamu shalat tahajud tidak? Kamu shalat dhuha tidak?” Begitu pertanyaannya kepadaku.
Bram Zakir adalah sosok manusia yang lebih mendekatkan diri kepada Allah. Katanya, “dulu aku nakal, kerjanya bikin sedih orangtua”. Waktu masih kecil pernah naik pohon dan jatuh, padahal sudah dilarang untuk panjat pohon. Lalu dimasa mudanya kerap berkelahi dengan teman-teman seumurnya. “Tapi kenakalan saya sebatas berantem saja, dan saya berani mempertanggujawabkan perbuatan saya,” ujarnya. Masa kuliah di FISIP UI, dikenal sebagai aktifis kampus yang gencar mengkiritisi kepemimpinan Orde Baru kala itu, dan bahkan pernah dipenjara.
Titik balik yang menyebabkan dirinya berubah adalah ketika tahun 2004 dokter menyatakan bahwa dia terkena Kanker Limpfoma, yang merupakan penyakit kanker ganas yang membuat nyaris nyawanya terenggut saat itu. Selain berusaha untuk berobat secara medis, Bram mendekatkan diri pada Allah SWT. Berserah diri. “Saya sering nagis kalau shalat, gak tahu kenapa?” kata Bram. Setelah itu, berangsur-angsur dia merasakan kesembuhan. “Sungguh saya merasakan suatu mukjizat”, ujar Bram.
Lalu dia mengisahkan perjuangannya melawan penyakit Kanker Limfoma di acara Peduli Kanker Limfoma, Bulan Ramadhan tahun 2008 lalu. Acara tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Kanker Indonesia bersama para survivor kanker dan anak-anak yatim. Berbuka puasa dengan anak-anak yatim saat itu berlangsung meriah di Hotel Reagent. Saat itu Bram makan semeja dengan Mbak Ussye survivor kanker payudara, dan saya survivor kanker serviks. Rasa syukur atas kesembuhannya itu, membuatnya mendirikan Paguyuban Masyarakat Peduli Limfoma. Beberapa mahasiswa yang ingin membuat penelitian tentang survivor kanker kerap mewawancarainya, katanya ”aku baru saja diwawancarai mahasiswa, eh dia pakai ngasih hadiah segala, padahal aku bilang gak usah. Tapi dia tetap ngasih, hadiahnya ini nih dasi, he..he.. Aku bilang wah saya sudah lama sekali tidak pakai dasi.”
Namun, kurang lebih sebulan setelah Bulan Ramadhan, mulailah keluhan itu terjadi, diawali dengan sakit di dada. Lalu Bram Check-up di Klinik Paramita di Warung Buncit. Hasilnya katanya ada kelainan jantung lalu dia berkonsultasi dengan Dokternya di RSCM. Berangsur-angsur sakit di dadanya hilang, tapi yang terjadi adalah sesak napas. “ngap-ngapan”, katanya. Lalu Bulan Desember 2008, mulailah Bram bolak balik ke RS MMC, dan dinyatakan oleh dokter menderita Kanker Lever. Berikut adalah pesan singkat yang dikirim olehnya melalui ponselnya:

(foto seminggu sebelum masuk rumah sakit)
12 Desember 2008, pk 09.51
Getah bening tdk ada masalah. Ada tumor di lever. Untuk tahu jenis tumornya,harus di biopsi. Untuk persiapan biopsi lever tadi malam sudah diperiksa lab ttg fungsi lever dsb. Belum ada tindakan medis sebelum tahu jenis tumor di lever. Cuma dikasih pain killer untuk menahan sakit dorongan leveritu, tapi gak pernah diminum.
15 Desember 2008, pk 11.43.
Aku tadi pagi jam 7.30 sudah konsultasi dengan dokter yang mau biopsi, dan dijadwalkan hari Rabu. Tapi aku mau ketemu Dr Aru di RSCM nanti jam 12. Sekarang lagi stationaire di Rumah Fatie, tunggu waktu.
16 Desember 2008, pk 13.43
Belum tentu juga, musti periksa laju endap darah dan tensi
16 Desember 2008, pk 14.23
Aku masih belum tahu berapa lama disini. Kalo mau nengok ke rumah aja.
16 Desember 2008, pk 15.40
Tindakan ditunda lagi, karena ada banyak cairan di daerah lever. Dikasih obat keluarkan cairan untuk 3 hari. Baru nanti sesdh 3 hari di biopsi. Ternyata harus dirawat 2 hari kalau biopsi lever.
16 Desember 2008, pk 15.45
Iya, dikasih obat utk 3 hari dan ada satu tes darah lagi. Baru nanti biopsi atau tidak.
16 Desember 2008, pk 15.52
Tadi di kasih obat. Jangan khawatir, yang tangani aku hepatolog. Jagoan kok.
16 Desember 2008,
pk 16.06 Iya Mei, aku otw pulang.
21 Desember 2008, pk 17.53
Di atas tempat tidur, aku makan soto mie tadi.
21 Desember 2008, pk 17:57
Tapi sekarang udah mual lagi.
21 Desember 2008, pk 22.25
Aku otw ke MMC, perut mules dan mual tidak tertahan, lgs rawat inap
22 Desember 2008 07.38
Aku di kamar 310
22 Desember 2008, pk 23.13
Amiin Ya Robbal Alamin. Mualnya udah hilang, tapi sakit perutnya gak pergi-pergi. Tks doanya ya Mei.
22 Desember 2008, pk. 23.25
Iya gak apa-apa kalau mau besok besok pagi boleh.
25 Desember 2008, pk 07.15
Masih banyak cairan. Jadi belum ada rencana tindakan apa-apa.
28 Desember 2008, pk 06.40
Mulutnya dari kemarin rasanya keriiiing sekali. Mungkin gara-gara obat yang dapat baru. Belum makan.
28 Desember 2008, pk 06.40 Dirumah, aku lagi kesakitan terus.
30 Desember 2008, pk 07.24 Aku lagi sendiri di kamar. Tks doanya.
31 Desember 2008, pk 10.00
Iya Mei. Insya Allah. Dengan doa aku bisa bertahan.
1 Januari 2009, pk 00.33 Selamat tahun baru Mei
1 Januari 2009, pk 08.55 Masih aja Mei, ya agak kurang sedikitlah. Memang luar biasa kali ini.
1 Januari 2009, pk 09.02
Sakitnya masih aja Mei. Ini aku ganti kaos terus kringet dingin terus-terusan. Kamu jangan sakit dong.
4 Januari 2009. Bram Zakir kembali dirawat di rumah sakit, kamar 412. keadaanya semakin lama semakin lemah.. aku terus terus berdoa. Tidak ada yang dapat dilakukan selain berdoa.. SMS terakhirnya adalah “Amiin ya Robbal alamiin”. Setelah itu dia tidak menjawab lagi, karena sudah sangat lemah.. Berusaha sesering mungkin membesuknya, bedoa dan memberi semangat, terakhir aku hanya bisa
mngatakan sabar, pasrah dan berserah diri.. Ucapan yang terakhir kepadaku adalah ,” doakan aku ya ..”
31 Januari 2009. pk 01.45
Innalilahi wa Inailaihi Rojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah Ibrahim Gidrach Zakir, temanku yang baik hati. Mas Bram sangat mencintai keluarganya. Semoga keluarganya diberi ketabahan dan kesabaran. Ratusan keluarga, kerabat, alumni,aktivis, politisi dan wartawan mengiri kepergiannya. Orang sebaik Mas Bram tentunya Allah SWT membukakan pintu Jannah untuknya dan dijadikannya alam barzakh sebagai taman dari salah satu taman surgaNya.
Amiin ya RobbalAlamiin